“Ngopi” Tapi Tak Pesan Kopi

Ada perubahan makna dari “Ngopi Bareng”. Dulu “Ngopi” identik dengan minum kopi bersama, bisa di kos kosan, angkringan, pinggir jalan hingga hotel. Namun saat ini “Ngopi” menjadi tak sekedar minum kopi. “Ngopi” telah berubah makna menjadi “Nongkrong Bersama”. Lokasinya pun berkembang tak lagi di angkringan atau di kos teman namun di coffee shop terdekat.

Ya…beberapa tahun ini Jogja kebanjiran coffee shop. Menurut pemilik Kedai kopi, Denny Neilment  terdapat sekitar 71 coffee shop berdiri di Jogja. Maraknya coffee shop ini tak lepas dari perkembangan gaya hidup masyarakatnya.

Tom Morris, dalam tulisannya di huffingtonpost.com   mengajukan pertanyaan kepada Scott F. Parker  kontributor untuk Rain Taxi Review of Books bahwa imajinasi “gaya hidup” berada di dalam minuman kopi. Dan Scott menjawab

“Kedai kopi adalah salah satu dari beberapa tempat terbuka untuk setiap orang agar berkumpul dan berlama-lama saat waktu luang. Kesenangan adalah tujuannya. Di dunia yang kompleks ini kopi memainkan peran yang menarik. Di satu sisi, mengandung kafein, di sisi lain, minum kopi dapat menjadi salah satu tindakan yang memerlukan perhatian juga penghambat kebebasan diri. Namun  Anda tetap mengambil waktu di hari Anda untuk melakukannya yaitu kesenangan sederhana. Minum Kopi.”

“Dan faktanya bahwa kopi umumnya disajikan panas dan ini memerlukan perhatian Anda – Anda benar-benar harus meminumnya dengan pelan. Saya pikir memfokuskan diri seperti ini, bahkan hanya untuk 15 menit, sangat penting untuk kesehatan mental”.

Scott memberitahu kita untuk menikmati gaya hidup ini –melambat, menikmati dan menggunakan waktu “Ngopi” anda untuk memperhatikan dunia. Scott juga mempertegas bahwa minum kopi tidak selalu membuat orang melakukan filsafat, tapi ini lah kesempatan untuk melakukan itu.

Café Society

Apakah ini yang disebut Café Society? Lucius Beebe, seorang jurnalis dalam kolomnya  di New York tribune selama 1920-1930-an mendeskripsikan Café Society untuk menyebut “Beautiful People” dan “Bright Young Think” yang berkumpul di café dan restaurant terkenal di New York, Paris, dan London di abad ke 19.  Orang-orang ini tidak sekedar minum kopi namun juga melakukan pertunjukan semu public di café dan restaurant tersebut. Mereka yang datang dari berbagai kalangan seperti selebriti, bintang film bahkan olahragawan.

Untuk Jogjakarta!

Episentrum perkembangan Coffee shop berada di kawasan kampus, lokasi mahasiswa beraktifitas. “Ngopi” bareng bisa apa saja….ngobrol santai, serius mencari ide, ato sekedar kangen kangenan. Mereka tidak hanya mahasiswa, namun juga eksekutif muda, dokter, peneliti bahwa seniman.

Mereka  buka penggemar kopi yang berat. Justru karena bukan penggemar kopi  mereka hanya mencari tempat nyaman saja untuk ngumpul. No drink coffee in coffee shop. Yang dipesan coklat, milkshake dan bukan kopi…cin. Menurut pemilik philocoffee -coffee shop di jalan kaliurang, menu yang banyak dipesan justru minuman non kopi. Penjualan kopi murni berada pada urutan paling bawah. Mereka mencari suasana dan bukan minumannya. Bisa jadi minuman untuk the seharga 5000 namun menghabiskan berjam jam untuk nongkrong. Mereka memanfaatkan hot spot area untuk aktivitas online. So…”Ngopi” tapi tak pesen kopi menjadikan coffee shop menjadi pilihan tempat untuk meraih kesenangan diri sederhana.

Satu pemikiran pada ““Ngopi” Tapi Tak Pesan Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s