Generasi Coffee Shop Jogja

20130921_113811

Seorang relasi pemilik Coffee shop beberapa waktu lalu memberikan data di jumpa pers “Pekan Ngopi Jogja” bahwa  di Yogyakarta telah berdiri  sekitar 71 coffee shop. Data ini biasa saja kelihatanya namun menjadi luar biasa karena berdasarkan data ini dirinya akan mendirikan Sekolah Barista Jogja.

What?  Sekolah Barista Jogja?!!

20130921_113747Apa yang dalam pikirannya saat ingin mendirikan sekolah barista di Jogja? Apakah Jogja punya kebun kopi berhektar hektar? Ndak juga. Terakhir Jogja punya 8050 ha kebun kopi di Turgo Kaliurang Sleman Yogyakarta  dan itupun menyusut menjadi 50 ha saja karena erupsi Merapi terakhir. Jogja juga tak punya kopi andalan kecuali kopi turgo yang belum lama ini berubah menjadi kopi merapi. Meski naik daun, kopi merapi belum sepopuler kopi tubruk.

Berbagai pertimbangan itu mengarah pada alasan pertimbangan insting bisnis semata. Sekolah Barista menjadi respon dari maraknya Coffee shop di Jogja.  Denny Neilment pendiri Coffee shop  bernama Kedai Kopi membagi pengalamannya dalam melahirkan barista. Selama hampir 10 tahun sejak awal mendirikan kedai Kopi tahun 2003 sampai saat ini, sekitar 200 barista dilahirkan. Barista yang dilahirkan juga dari latihan otodidak internal kedai Kopi. So menurutnya kebutuhan akan barista makin hari makin besar seiring perubahan gaya hidup anak muda Jogja yang membutuhkan Coffee shop dalam pergaulannya.  Ok lah..ini menjadi satu satu alas an bisnis ini berkembang.

20130921_194841Di balik itu saya tertarik dengan maraknya coffee shop sebagai gejala berubahnya gaya hidup anak muda di Jogja. Saya menyebutnya dengan lahirnya generasi Coffee shop. Generasi ini hidup dari suasana social yang mengutamakan pergaulan dan kebersamaan. Ada kebutuhan untuk melakukan aktivitas social secara langsung di tengah gempuran komunikasi massa tak langsung –online. Mereka adalah generasi kelas menengah yang sedang membangun gaya hidup seimbang. Abis….bosan terus chatting ‘n online, pengennya ketemu langsung.

Coffee shop menjadi tempat yang mengakomodasi ruang privat untuk berkumpul. Mereka membicarakan sesuatu, kadang menciptakan sesuatu bahkan membangun sebuah perasaan bersama.

Namun  Coffee shop juga menjadi sebuah pilihan. Mereka dapat saja memilih angkringan, kaki lima atau kedai mie instan, namun mereka memilih Coffee shop. Itu karena pemilihan tempat menjadi ukuran. Pemilihan lokasi dan tempat memberikan anggapan istimewanya perjuampaan ini bahkan sebuah  status bagi siapapun yang memasukiny.

Ini sangat cocok dengan sejarah Coffee shop sendiri. Martyn Leaper dalam tulisannya Coffee and Revolutions di Situs http://www.mcmenamins.com mengatakan kopi merupakan bagian dari aktivitas revolusi. Pada massa abad 16 ketika alkohol menjadi minuman favorit dan air putih langka, kopi menjadi solusi dari efek negative alcohol. Alcohol membawa orang pada ketidakberdayaan, alias mabuk. Namun di pagi hari setiap orang memilih kopi untuk mengembalikan kesadaran mereka. Kopi menjadi minumanpara patriotic. Filosofi ini lah yang menjadikan kopi menjadi entitas pencerahan di samping merupakan antithesis dari teh –minuman para priyayi kerajaan.

Di jaman itulah Coffee shop menjadi rujukan orang orang untuk berdiskusi membangun ide revolusi. Revolusi dibangun di dalam Coffee shop . Seperti gayung bersambut Coffee shop menghadirkan juga berbagai  pementasan dan aktivitas revolusioner.

Dan apakah hal seperti itu juga mengarah ke  Jogja ? Faktanya Coffee shop ini menampung mahasiswa kadang eksekutif muda, wartawan namun pembicaraan ide segar bahkan revolusioner, mm…saya kira belum!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s