Kartu Remi Satukan Hati!

Gue baru tahu kalau gardu ronda dan cafe tak banyak bedanya. Kedua tempat ini sama sama menjadi sasaran nongkrong!! plis….dech!

Contohnya gardu ronda gue di kampung, mulai pk 21:00 sudah dipenuhi orang- orang tua. Tak peduli ada maling di kampung, tak peduli harus ngambil jimpitan, klo sudah kumpul empat orang ya…pasang posisi (baca: kocok kartu).

Begitu juga KaliMilk, Cafe penyedia susu sapi hangat di Pringwulung, Yogyakarta, bahkan sejak sore sudah ditongkrongi anak muda. Dua tiga orang berkumpul disitu kartu dikocok.

Nah…selain sama-sama jadi tempat nongkrong, ternyata mereka juga punya “hati” yang sama. Kaum kasepuhan di Gardu ronda berkumpul per4 orang dan kaum muda di cafe tak peduli dengan berapa jumlah temannya, langsung main kartun remi.

“Wadeuwwwh….” pikirku.

Gak di pos ronda, gak di cafe pemandangannya sama. Main remi!! Remi lagi!!

Sebagai sarjana Sosiologi yang mengklaim diri sebagai sosiolog, otak gue gak membiarin fenomena ini berlalu begitu aja tanpa dibedah. Secara sosiologis, gardu ronda dan cafe sudah mengalami perubahan fungsi kelembagaan. Dulu gardu ronda menjadi tempat pos siskamling, alias pos keamanan swadaya kampung. Seiring meningkatnya kinerja polisi, dan sadarnya para maling maling kampung, Gardu ronda hanya jadi tempat formalitas aja untuk absen muka. Kartu remi satukan hati warga kampung….Bener gak cin???

Gardu roda juga menjadi representasi dari proses asuransi sosial. Kehadiran kita untuk nongkrong di gardu ronda dihitung sebagai polis asuransi. Semakin sering kita nonkrong dan silaturahmi semakin kita dipertimbangkan sebagai bagian dari warga. So balasannya soal keamanan rumah tangga siap disokong bersama. Mau hajatan tinggal senggol.

Sementara untuk Cafe, awalnya berfungsi sebagai tempat makan dan minum laiknya rumah makan. Seiring berubahnya konsep makan di warung makan, bahwa yang namanya makan itu tak hanya mengejar WAREG alias kenyang tetapi juga imej KEREN dan GAUL. Seperti gayung bersambut warung makan sendiri merubah penampilannya agar tidak terkesan “kampungan” yaitu dengan nama CAFE. Mereka pun tak sekedar menjual makanan namun juga “menjual” suasana. Bahkan saking tergusurnya aktivitas makan-minum di cafe menjadi aktivitas santai menjadikan “makan minum” ini sebagai kegiatan sambilan.

Dan kartu remi sebagai pilihan, bagi muda mudi di cafe. Kartu remi telah menjadi kartu penyelamat bagi pasangan muda agar tak mati gaya. Lhoh…apa hubungannya kartu remi dan mati gaya?

Begini…pas kamu punya amunisi curhaan banyak kartu remi tak berguna, tapi……klo stok ceritamu habis? wah bisa runtuh dunia dan harga diri!!! Nah disinilah kartu remi begitu berguna. Tenang saja, tiap cafe telah menyiapkan kartu ini sebagai compleimen gratis bagi pengunjung. Keluarkan, kocok kartunya, bagikan…..selesai masalah!!! kamu tak mati gaya!

Kartu remi mengalihkan komunikasi verbal menjadi komunikasi simbolik.

Kartu  mu….gimana say?

Ah….kartu gue lagi bagus…nih

Kartu remi satukan hati warga kampung,

Satukan hati dua sejoli.*lebai….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s