Semua Orang itu Pendidik!

sekolah

siswa juga pendidik bagi temannya

Setiap orang selalu garuk-garuk kepala dan mengkernyitkan dahi saat mengetahui studi apa yang dulu aku jalani. Tak perlu verbal mengatakan, namun jelas tersirat kalau banyak orang menyangsikan ilmu studiku. Namaku PascualDuarte -bukan nama sebenarnya, aku lulusan Sosiologi dan aku seorang pendidik!!

Tinggal bersama keluarga sederhana, orang tuaku memenuhi semua kebutuhan hidupku. Tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, keharmonisan rumah tangga dan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok menjadi nilai yang mau tak mau diwariskan orang tua kepadaku. Semuanya itu adalah nilai-nilai baik yang sengaja ditanamkan orang tua ke dalam otakku sejak kecil. Semangat bekerja keras kupelajari dari ayahku, lelaki lulusan STM yang merintis karir sebagai honorer di BUMN. Ketekunan dalam bekerja dan pengabdian menjadikannya lelaki hebat dalam pekerjaannya hingga karir jabatannya meninggi.

Kesabaran dan kelembutan kupelajari dari ibuku, wanita lulusan SMA yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Sesekali menerima jahitan baju dengan mesin tua peninggalan nenekku. Urusan rumah tangga yang terencana menjadi kan kami para laki-laki nikmat saat berada di rumah. Aku belajar bagaimana gender diperlakukan. Urusan rumah tangga bukan hal sepele. Wilayah ini sisi mata uang dari kehidupan. Tak ada orang sukses yang dianggap sukses saat urusan rumah tangganya berantakan.

pendidikan tradisi

Mari saling mendidik

Hasilnya inilah aku. “Hidupku begitu sempurna”, pikirku saat itu -karena keluarga kami baik-baik saja. Akupun “sukses” menjalani apa yang diidam-idamkan orang tua. Lulus perguruan tinggi, bekerja, berkeluarga dan mampu membangun rumah sendiri. Semua karena para pendidik kehidupan.

Weit…jangan senang dulu. Bicara soal ayahku berarti bicara tentang API! Dia juga api yang mampu membakar kebodohanku, kemanjaanku, dan kelambatanku saat menerima pelajaran. Mendidikku dengan keras hingga tangis anak-anaknya pecah. Sementara Ibuku juga AIR yang meski menyejukkan namun juga mendidih saat bersatu dengan api, melepuhkan kerak-kerak pengganggu.

Dan baru kupahami kemudian bahwa orang tuaku menganut nilai yang dikenalkan orang tua mereka sebelumya bahwa, “Orang yang paling bijaksana adalah orang yang tidak menampakkan kekurangannya kepada orang lain”. Maksudnya, ketika mereka mendidikku seolah tanpa beban, dibalik semua itu perjuangan dengan cucuran keringat dan darah, tercurah tak terhindarkan. Kematian jaminannya demi kami tunas yang mulai tumbuh.

Wah,beruntung mempunyai orang tua pendidik seperti mereka hingga menjadikan diriku lelaki mandiri, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja keras, tekun dan menangani segala sesuatu dengan bijak. Itu warisan nilai dari keluargaku, yang membuat istriku tergila-gila dengan pribadiku hingga jatuh dalam pelukanku. *lebay!!!…@$%%$*…

angkringan, tempat curhat sampai mampus!!

Dan inilah Aku, lulusan Sosiologi. Orang tuaku berhenti mendidiku saat aku kuliah. Sejak saat itu juga mereka memetik hasil dari didikan mereka. Aku berhenti menerima segala asupan orang tuaku. Aku kuliah sekalgus bekerja untuk membayar kuliahku. Aku mandiri!

Aku tak lagi belajar kepada orang tuaku, ibarat murid perguruan silat semua ilmu sudah kudapat, kini saatnya mengembara. Aku belajar kepada hidup. Di bangku kuliah, sosiologi mengenalkanku untuk berfikir dengan berbagai cara. Ibaratnya chef, saat memasak dia akan menyiapkan banyak pisau, untuk mengiris bahan masakan sesuai dengan jenisnya. Sosiologi pun demikian, mengenalkan banyak pisau untuk membaca kehidupan.

Aku dikenalkan bahwa kehidupan berisi manusia-manusia yang istimewa dengan segala perilakunya. Mereka unik dengan pengalamannya. Mereka juga berfikir, berubah dan saling bersaing. Untuk itu mereka istimewa, merekalah para pendidik. Dan Sociology for daily live menjadikanku makin matang.

Inilah indahnya dunia kampus, tak sekedar hafalan tetapi teks-teks sistematis menjalani kehidupan. Berbincang dengan dosen itu sudah biasa, tetapi berbincang dengan teman tentang pilihan kehidupannya itu baru belajar! Berbincang dengan profesor tentang teori sosial itu juga biasa…namun berbagi pengalaman dengan penjual angkringan, tukang becak, dan anak jalanan itu luar biasa. Profesor mendidik dengan teks-teks formal yang tak bisa kita kesampingkan namun penjual angkringan, tukang becak, dan anak jalanan mendidik kita dengan pengalaman nyata hidupnya.

Nenekku mewariskan pengetahuannya pada orang tuaku. Orang tuaku mewariskan pengalamnya pada ku dan aku akan mewariskan dialektika kehidupan pada anakku. Di ruang kelas kita belajar tentang teori, di warung angkringan kita belajar pengalaman orang lain, di jalanan kita belajar kenyataan hidup.

So, SETIAP ORANG ADALAH PENDIDIK, SETIAP TEMPAT ADALAH RUANG KELAS, DAN SETIAP CERITA ADALAH PENGETAHUAN.  Saatnya memposisikan setiap orang adalah si empunya pengetahuan. Komunikasi dan relasi untuk transfer pengetahuan, sifat hakiki pendidikan.

Saatnya berbincang dengan Kayetan…anak laki-laki usia enam tahun, siswa sd yang tiap hari menemaniku. Kau juga seorang pendidik nak….!!!

 

tulisan ini diikutkan dalam:

3 pemikiran pada “Semua Orang itu Pendidik!

  1. Paskal (kembali) atau tepatnya kamu masih seperti yang dulu. saat (aku) semester 1 kita berdiskusi tentang Freire dan Scholae, dimana ruang-ruang belajar bagi yang mau belajar diciptakan semudah mungkin, dimana saja, kapan saja dengan siapapun gurunya. Paskal yang alumni sosiologi dan skripsi masterpiece-nya tentang sosiologi pendidikan. Lanjut teman!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s