Aura Dasyat Candi Plaosan

candi plaosan

candi plaosan dari utara

Akupa anak berusia enam tahun itu menggigil, memegangi dadanya saat masuk ke bangunan induk Candi Plaosan. Wajahnya memucat, suaranya terbata-bata. “Ibu, dadaku bergetar. Gelap sekali?”, begitu bisiknya dengan lirih. Getaran itu pun dirasa kan Savitri -sang ibu. Rasanya seperti sesak kehabisan udara, terhimpit sesuatu. Tak ada yang terlihat hanya hati dan jantung yang mampu merasa aura candi Plaosan.

Sang ibu pun mendekap anak semata wayangnya, menuntunnya keluar untuk menghirup udara segar, membakar aura buruk dibawah panasnya cahaya matahari. Seolah menemukan kelegaan dari himpitan hidup, detak jantungpun kembali melambat menemukan ritme nya. Mereka pun melangkah melewati gapura dengan dalam perlindungan wajah kala.

candi plaosanCandi Plaosan berdiri gagah di areal persawahan dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram kuno awal abad 9 M. Pendapat lain menyebutkan dibangun sebelum pemerintahan Rakai Pikatan. Informasi ini didasarkan pada Prasasti Sri Kahulunan (842 M) yang menyatakan bahwa Candi Plaosan dibangun oleh ratu Sri Kahulunan. Sri Kahulunan menurut ahli sejarah Belanda De Carparis merupakan gelar bagi Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang putri memeluk Buddha dan menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang memeluk agama Hindu.

Sesampainya di mulut candi tepat dibawah ukiran wajah angker raksasa yang dalam konsep hindu disebut kala makara, Akupa menyandarkan badannya. Diluar sana terik mentari siap menyambut tubuh nya. Saat itu langit menampakan kebesaranya yang membiru, tak ada kata lain kecuali kata-kata sampah untuk mengupat panasnya hari itu. Sinar ultraviolet siap menusuk kulit, menginstruksi pigmen coklat menjadi hitam, menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuh.

Namun alam berkata lain. Di bawah kala makara ini angin bekerja, menyusup sela baju memanjakan siapapun yang sedang sendiri. Angin berhembu,s mengusir lelehan keringat yang siap membasahi sela sela tubuh. “Ah….”. Savitri menghela napas. “Tempat ini begitu indah. Seolah menjadi rumah kedua bagiku. Meski mentari membakar semua yang dibawahnya namun tidak saat menyatu di candi ini.” Kesejukan yang beda. Dingin, nyaman seperti di rumah sendiri.

Bangunan induk candi Plaosan memang lebih lembab dari bagian luar bangunan yang panas, namun sebenarnya suasana bangunan utama candi tersebut tak begitu gelap. Sirkulasi udara dan cahaya begitu sempurna sehingga memberikan kesejukan tak saja di dalam candi juga di luarnya. Satu pintu utama dan empat jendela di kedua sisi menjadi jalan keluar masuk udara dan cahaya, menyatu di bagian utama candi.

Setiap candi dibangun untuk tujuan penghormatan dan pemujaan, termasuk Candi Plaosan ini. Plaosan menjadi tempat yang tepat untuk menyepi, membangun kesatuan diri dengan sang pencipta. Wajar bila orang Jawa selalu menjadikan Plaosan untuk semedi terlebih saat malam selasa dan jumat kliwon.

Lokasinya dari keramaian kota sekitar 1 kilometer dari candi Prambanan. Di kompleks ini terdapat dua kompleks candi yaitu candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul.

Candi Plaosan Lor memiliki dua candi utama menghadap barat. Candi sebelah kiri bernama Candi Induk Utara dengan relief yang menggambarkan relief wanita, sementara candi sebelah kanan bernama Candi Induk Selatan menggambarkan relief laki-laki. Kedua candi induk ini dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi perwara (candi kecil). Setiap candi perwara merupakan sumbangan dari raja raja kecil. Nama candi perwara ditulis dalam huruf Sansekerta di sisi depan. Dalam Candi Induk berderet tiga arca Budha duduk di atas padmasana menghadap ke pintu. Sayangnya arca bagian tengah hilang entah kemana. Sementara di dinding kiri dan kanan terdapat relief Kuwera dan Hariti, sebuah relief yang hanya ada di candi Buddha Tantrayana.

tulisan sansekerta

tulisan sansekerta candi perwara
berisi nama Raja Kecil yang turut membangun Candi Plaosan

Kuwera adalah raksasa pemakan manusia yang bertobat setelah bertemu Buddha. Hariti adalah istri Kuwera yang juga bertobat. Setelah itu mereka berubah menjadi dewa kekayaan dan pelindung anak anak. Tak heran bila relief kedua dewa ini selalu digambarkan juga pundi pundi uang dan anak anak.

Savitri pun menggandeng Akupa kearah utara. Melewati petak petak bangunan runtu,h melewati pohon wali songo berumur ribuan

tanaman di candi plaosan

akar tanaman di candi plaosan

tahun. Akar pohon ini mencengkram salah satu pondasi bangunan, menyatukannya dengan tanah. “Disinilah leluhur kita pernah berjaya, nak!. Mari kita hentikan waktu sebentar, pergi meninggalkan kesenangan duniawi!” keduanya pun larut dalam kekaguman masa lalu menembus batas waktu dalam keutuhan hidup. Sesaat keduanya berdiri di bangunan sisi utara, sebuah  pelataran terbuka yang dikelilingi arca-arca tua.

Teras yang luas, arca Dyani Buddha mungkin pernah menjadi bagian dari bangunan ini. Konon bangunan ini merupakan tempat meletakkan sesajian. Konon pula umpak diatasnya perupakan bantalan kayu penyangga, sebuah pendopo atau bangunan dari kayu. Seakan menjadi petunjuk susunan batu lantai pun ditata memusat di bagian tengah.

Deretan arca-arca dengan wajah dan bentuk tubuh yang berbeda beda.

Untuk Akupadatu!

beberapa koleksi Foto:

Candi induk diantara reruntuhan

Salah satu relief di Candi Induk Selatan

arca di tangga masuk

pohon besar disekitar candi berusia ratusan tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s