Surat Untuk Perempuan Belanda

Hi….Wil! Kamu bule Belanda pertama yang kukenal. Wajah cantik dan ramah yang pernah kukenal, sayang kita terlambat berjumpa. Bila kamu datang jauh sebelum saat otakku di “cekoki” oleh guru sejarah tentang kebengisan bangsa Belanda mungkin aku lebih bebas berimajinasi tentang negerimu…

pelukan hangat -doc. pribadi dhika Maysara

pelukan hangat -doc. pribadi dhika Maysara

Sekolah mengenalkanku bahwa Belanda menjajah negeri ini 350 tahun. Para guru dan orang tua mengenalkan cerita perjuangan bangsa Indonesia dengan menggebu. Ceritanya sama yaitu kehebatan para pahlawan dan kebengisan tentara Belanda. Belum lagi bumbu-bumbu cerita dari simbah-simbah yang mengalami langsung perang tersebut bahwa Belanda itu kejam.  Itu membuat cerita sejarah ini lebih bermuatan kebengisan dan kebencian bangsa Belanda dari pada memupuk nasionalisme anak sekolah.

Lulus SD, pengetahuan tentang Belanda tak berkurang, malah semakin subur hingga SMA. Setiap buku dan referensi  yang ada selalu memberikan informasi bahwa bangsa Belanda adalah “pengadu domba” perampok kekayaan bangsa. Tak pernah kubayangkan bagaimana wajah Belanda sebenarnya, begitu buruk, begitu kejam. Ini tak berhenti hingga duduk dibangku kuliah. Referensi itu semakin detail dengan berbagai kemasan tulisannya.

…..Maafkan aku , Will! Aku tak bisa menolak. Pengetahuan itu datang tanpa aku minta. Negerimu begitu buruk di otakku, saat itu. Aku tahu itu buka ulahmu. Mungkin ulah nenek moyangmu atau mungkin juga bukan siapa siapa…..

Dan kau datang saat otakku sudah dilumuri kotoran tentang negerimu. Ini membuat pemuda yang baru duduk di bangku kuliah terus berdialektika tentang apa yang pernah didapatnya saat kecil dan apa yang dibacanya sekarang . Pikiran dewasaku terus menguasai tubuhku, terutama saat kau datang dihadapanku. Kau datang tidak dengan wajah seram, bengis, dan menjajah. Kau begitu cantik, tangguh dan ramah. Dan kau mengaku putri negeri Belanda!!!

Usiamu tak jauh dariku namun terasa seperti orang bijak bagiku. Kau bukan seorang guru namun mengenalkanku bagaimana berfikir logis. Aku ingat bagaimana kau mengajariku bagaimana berdiskusi, menghargai pendapat orang lain dan tentu saja mengenalkan cara berfikir kreatif untuk sebuah persoalan.

Kau juga bukan turis namun mengenalkanku bahwa kau pribadi istimewa yang menghargai apa yang berbeda dari dirimu. Seperti kata pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung –dimana kamu hidup disitu kau hargai segala kebudayanya. Khusus yang terakhir ini selalu membuatku tersenyum. Saat kuundang makan siang dirumah dengan menu makanan kampung kau bergumam bahwa kau suka dengan nasi pecel dan tempe buatan ibuku.

bersama teman -doc Ficky Tri Sanjaya

bersama teman -doc Ficky Tri Sanjaya

Di Anak Wayang Indonesia  sebuah lembaga yang peduli dengan anak kampung, kemampuan kita diadu. Kamu memberikan b ide tentang bagaimana mengelola sebuah organisasi dan bagaimana kreatif membuat sebuah program pemberdayaan. Kuakui bahwa cara berfikir kita berbeda, kau begitu runtut, logis, dan cerdas dalam membangun sebuah opini. Kutanya beberapa teman yang pernah kau ajak mengunjungi sebuah sekolah di Belanda, kata mereka sistem pendidikan sejak dini menjadikan setiap anak Belanda berpribadi tangguh, cerdas berfikir dan emosi sekaligus menghargai perbedaan.

Sampai disini suratku, will. Bicara soal pendidikan aku ingat saat SMA. Belanda meninggalkan banyak sekolah berarsitektur unik. Diantara semua, hanya satu yang berkesan yaitu sekolah ku….Kolese De Britto…tunggu ceritaku Will!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s