Hi will, terima kasih sudah menjadi pembaca setia dari surat suratku. Kali ini aku ingin mengenalkanmu pada kota ku –kota yang telah mendewasakanku. Tak perlu jauh menemuimu ke Belanda, Yogyakarta pun jadi Belanda kedua bagiku.
Siapa tak ingin ke kota kelahiranmu, Belanda?! Aku pun ingin menginjakkan kaki di negeri yang indah itu. Negeri seribu tulip. Namun, tak sedikit pengorbanan yang dibutuhkan untuk kesana. Bagiku hanya mimpi tetap mendekatkanku dengan Belanda. Tahu kah kau bahwa nenek moyangmu pun pernah datang di kotaku.

dok. istimewa
Apapun kepentingannya, pastinya mereka merasa nyaman tinggal di sini. Lihat saja tata kota Yogyakarta yang memadukan tata kota gaya Belanda. Tugu Yogyakarta yang dikenal dengan nama tugu Pal Putih ini tak lepas dari perpaduan Yogyakarta-Belanda. Tugu Pal Putih awalnya tidak seperti yang kita lihat sekarang. Dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I –raja kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tugu ini bernama Golong Gilig. Tubuhnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), berfilosofi manunggaling kawula gusti atau menyatunya rakyat dan penguasa.
Hebatnya kedatangan Belanda ke Yogyakarta justru menjadikan tata kota Yogyakarta semakin unik. Belanda membangun gedung berarsitektur khas Belanda. Hal ini dibuktikan dengan gedung Kantor pos Indonesia, Bank BNI, Benteng Vrederburg, gereja dan perumahan pegawai Belanda di Nieuw Wijk (1920) atau Kotabaru. Lebih keutara, Belanda membangun jalan dan jembatan melintasi sungai Code dalam bahasa Belanda disebut Kerkweg. Namun orang Jawa menyebutnya Kewek. Lanjut membaca








